MALANGKUCECWARA
|
|
comments (0)
|
KOPI di Indonesia banyak ragamnya, mulai dari wilayah Barat hingga Timur. Namun di balik kenikmatannya, kopi ternyata cikal bakal lahirnya kopi di Indonesia.
"Pulau Jawa itu cikal bakal kopi Indonesia karena pada awal mulanya kopi itu datang di Pulau Jawa," ucap Ina A. Murwani, Executive Director Asosiasi Kopi Spesial Indonesia,
Dijelaskannya, awal mula pertumbuhan kopi adalah daerah Jawa Barat. Campur tangan pemerintah Belanda menjadikan kopi kini memiliki pula pilihan tidak begitu kental.
"Asal usulnya di Jawa Barat, tapi di sana lebih dikenal dengan teh, bukan kopi. Dan di sana, kopi sudah lama karena ada faktor politik pemerintahan Belanda dan campur tangan mereka," paparnya.
Ina menegaskan, kopi sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia, tapi dibawa dari negara-negara asing yang datang ke Indonesia dengan menggunakan sistem barter. Kopi awalnya berasal dari Arab, tepatnya Yaman dan Ethiopia.
Ina menambahkan, dari daerah Jawa Barat lah, perlahan tanaman kopi mulai dikenal leh masyarakat secara luas. Menanam kopi pun menjadi sumber penghasilan demi memenuhi kebutuhan hidup.
"Dari Jawa Barat mulai menjalar ke wilayah Indonesia. Oleh karena itu, Jawa Barat dikenal sebagai lahirnya kopi hingga disebut Java Kopi. Dari sana mulai memasuki daerah Jawa Timur, dari situlah kopi mulai dikembangkan sehingga Jawa Timur dikenal sebagai sumber kopi, dan kini Jawa Tengah, tepatnya Temanggung, sudah mulai mengembangkan kopi,” paparnya.
Setelah Jawa Tengah, lanjut Ina, kopi kemudian masuk ke wilayah lainnya di Indonesia, seperti Bali, Papua, Aceh, Medan, Flores, dan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
|
|
comments (0)
|
SELAIN memiliki kekayaan ragam makanan, wilayah, serta budaya, Indonesia juga kaya cita rasa kopi. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai jutaan cita rasa kopi.
"Kelebihan kopi di Indonesia adalah punya cita rasa yang beragam, hampir jutaan dan itu tidak dimiliki oleh negara lain," jelas Ina A. Murwani, Executive Director Asosiasi Kopi Spesial Indonesia,
Lantas, mengapa cita rasa kopi Nusantara bisa begitu banyak? "Sebagai contoh, Kolombia ada Kolombia Selatan, Kolombia Utara, tapi tetap saja nama kopinya adalah Kolombia saja. sementara di Indonesia, dari Timur sampai Barat, namanya beda-beda; kopi Aceh, Bali, Papua, dan sebagainya karena prosesnya berbeda-beda. Indonesia memang kaya akan kopi," tambahnya.
Bahkan kini, ujarnya, kopi yang berkembang di Indonesia memiliki banyak rasa, mulai cokelat, madu, rumput-rumputan, bunga, herbal, dan lainnya. Menurutnya, faktor iklim serta geografis Indonesia sangat menguntungkan bagi pertumbuhan kopi, terlebih Indonesia memiliki banyak pegunungan.
"Indonesia memiliki pegunungan aktif dan terdapat faktor dari tanahnya sehingga cita rasa kopi pun beragam," paparnya.
Dengan memiliki banyak cita rasa, kopi Indonesia pun dilirik banyak negara luar. "Di Flores ada namanya kopi madu, diproses, sehingga lengketnya seperti madu. Indonesia kaya akan kopi, belum lagi flavor-nya lebih bagus, bersih, smooth, hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki robusta yang bersih, kalau yang rendah tidak akan terasa halus," tutupnya.
|
|
comments (0)
|
BERBURU oleh-oleh khas di Kota Malang setelah berlibur kini lebih bervariatif. Selain kripik tempe, apel, dan olahan apel, kini ada yang terbaru dan diburu wisatawan yakni brownies tempe. Protein tempe semakin digemari dengan kemasan dan pengolahan yang menarik berupa roti bantat brownies.
Adalah dapursalah satu rumah tempe di kawasan Blimbing, Kota Malang yang menjadi awal proses pembuatan kripik tempe brownies atau roti bantat muncul. Sisa-sisa irisan tempe dan gorengan tempe yang tertinggal di penggorengan ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan dan campuran pembuatan brownies.
Selain bahan-bahan brownies pada umumnya, seperti mentega, telur, tepung terigu, coklat bubuk dan cokelat batang, ada bahan tambahan di sini. Tepung olahan tempe dan sisa potongan dan penggorengan tempe yang membuat brownies ini berbeda.
Proses pertama adalah mencairkan mentega dan dicampur cokelat bubuk dan cokelat batang. Baru kemudian adonan telur dan tepung terigu dicampur saat proses adonan mentega dan coklat yang telah mencair dicampur, baru terakhir tepung olahan tempe dan sisa potongan dan penggorengan tempe ditambahkan untuk menciptakan sensasi renyah.
Setelah seluruh bahan tercampur rata, adonan siap dicetak dalam loyang ukuran brownies. Proses selanjutnya, barulah dimasukkan oven dengan panas 150 derajat dalam waktu dua jam, brownies tempe baru matang.
Proses terakhir adalah menghias dengan larutan coklat putih yang dicairkan atau serutan keju diatas brownies tempe. Siapa menyangka, olahan tempe yang awalnya hanya memanfaatkan bahan yang tersisa dan untuk menarik anaknya yang enggan makan tempe, karya Bu Noer ini justru menjadi kudapan yang dicari para wisatawan yang berunjung ke Kota Malang, khususnya pada liburan sekolah dan akhir tahun ini.
Selain tidak lazim, sensasi rasa tempe khas Malang ternyata menggoda untuk menyantap brownies ini. Dengan harga jualnya yang cukup murah, Rp16 ribu per kotak, brownies tempe terus diburu. Jika pada hari biasa brownies tempe terjual hingga 300 loyang per hari, pada musim liburan seperti sekarang, brownies tempe terjual hingga 900 loyang atau tiga kali lipat peningkatannya.